Cari Disini

Custom Search

Rabu, 24 November 2010

DPR Hanya Merebut Kursi, Bukan Hati.


MT on 11 23, 2010
dpr-molor
Sudah banyak kejadian yang mengungkap ketidakpedulian Wakil Rakyat yang terhormat. Yang paling hangat adalah dugaan Anggota DPR yang baru “nyuekin” Tenaga Kerja Wanita asal Indonesia di Dubai. Belum lagi saat rentetan musibah dialami rakyat Indonesia di Wasior, Merapi, dan Mentawai. Sempat-sempatnya ada anggota Dewan yang terhormat membuat pernyataan yang menyinggung perasaan manusia yang normal. Saat itu ketua DPR Marzuki Alie menyatakan, apabila masyarakat Mentawai takut ombak, seharusnya pindah di daratan saja. Apapun justifikasi yang dinyatakan setelah banyak yang menyayangkan pernyataannya, jelas bahwa anggota DPR kurang memiliki sense of crisis. Belum lagi jika kita mengangat kasus korupsi, proyek-proyek money oriented, praktik politik uang, penitipan isi daftar hadir, molor saat meeting, dana aspirasi, rumah aspirasi, gedung baru, dan becking-beckingan… Terlalu banyak noda yang menyelimuti kisah para Anggota Dewan yang mestinya terhormat itu.
Melihat dari kasus yang ada, timbul pertanyaan, kenapa anggota DPR kita makin sering melakukan sikap maupun tindakan yang justru merusak kehormatannya sendiri?
Banyak tinjauan yang menjawab masalah tersebut. Kita mulai saja dari sisi moralitas. Mungkin saja kebanyakan anggota DPR yang sering melakukan kasus yang mencemarkan nama baik lembaganya itu terjadi karena memang tidak memiliki integritas pribadi yang kukuh. Boleh jadi sebelum menjadi anggota Dewan, mereka adalah orang-orang yang baik. Namun karena pribadinya mudah goyah, maka gampang sekali tercebur dalam situasi negatif yang menjadi atmosfir dominan di lingkungan DPR.
Tinjauan di atas memang tidak berlaku bagi anggota Dewan yang memang “dari sononya” sudah tak baik. Yang saya maksud adalah mereka yang untuk mendapatkan kursi di DPR dengan cara yang tak pantas dianggap baik. Misalnya ketika kampanye menerapkan “money politic”, memanfaatkan relasi dengan elit partai politiknya, berkonsultasi dengan dukun yang mereka labelkan sebagai konsultan spiritual, dan lain-lain. Belum lagi janji-janji muluk yang mereka nyatakan saat kampanye, yang mengelabui rakyat.
Jika kembali kepada niat, benar juga hadits Nabi Muhammad SAW, yang menyatakan “segala kegiatan/aktifitas (amal) itu amat ditentukan oleh niat…” Boleh jadi kebanyakan anggota Dewan maupun pejabat negara, hanya berniat merebut kursi, tetapi tidak merebut hati rakyatnya. Wajar jika mereka hanya mendapatkan kursi dan segala fasilitas yang melingkupinya, tetapi mereka tak akan pernah bisa mendapatkan hati rakyat. Selalu saja ada momentum yang membongkar kebobrokan moral mereka, sehingga rakyat semakin mengenyahkan mereka dari hatinya.
sumber:www.okezone.com

ARTIKEL TERKAIT





Sameera Chathuranga Posted By Emaridal-acak

Komentar sahabat sangat diperlukan demi kemajuan emaridial-acak,karena satu komentar saja yang sahabat tulis untuk AC2,sama dengan sudah membantu AC2 dalam mengembangkan emaridial-acak ini.AC2 menerima saran dan kritik silahkan kontak kami acak_acak92@yahoo.com. Salam sayang AC2 kepada sahabat. contact me

Thank You


0 Responses So Far:

Poskan Komentar