Cari Disini

Custom Search

Jumat, 07 Januari 2011

CATATAN KAKI SANG WARTAWAN DI LOKASI PUCUK JAMBI(TEMPAT KHUSUS...BACA ANDA AKAN TAHU)

  bismillah...mari kita mendoakan mereka untuk segera BERTAUBAT.
 
Tak bermaksud mengajak pembaca jadi ”penggemar” Lokalisasi Pucuk, posting kali ini aku hanya ingin bercerita tentang perjalanan ke Lokalisasi Pucuk, satu-satunya lokalisasi terbesar, terakomodir dan masih ilegal yang ada di Kota Jambi. Lokalisasi ini dipenuhi oleh para Pekerja Seks Komersil (PSK) yang didatangkan para ” mami-papi” dari berbagai penjuru negeri di Indonesia.
Tercatat 60 KK tinggal di sini, 1 KK memiliki 5 hingga puluhan anggota keluarga. Tentunya para anggota yang dimaksud adalah para PSK. Sejak empat tahun terakhir, sudah empat kali aku masuk ke lokalisasi ini untuk kepentingan liputan. Anehnya, meski terbilang sudah sering, perasaan asing dan tak nyaman tetap saja terasa
Kunjungan pertama ku pada tahun 2005. Ditemani Bang Fahmi, fotografer Jambi Ekspres, kunjungan ini nyaris tanpa hambatan. Didampingi orang yang sangat tepat, Bang Fahmi sangat akrab dan familiar di lokasi ini…entah karena keseringan ikut Polisi atau Pamong Praja razia untuk kepentingan foto atau karena pelanggan sini…hahahahaha. Bang Fahmi kenal dekat dengan Ketua RT dan beberapa Mami yang ada di sini, semua data dan wawancara jadi gampang. ”Tenang don…u akan aman jalan sama i…u tak akan i jual di sini…hahahaha” iiiih Bang Fahmi sempat buat aku ketakutan.
Suasana di Pucuk, gambar ini aku ambil diam-diam. Terlihat ada anak-anak, wanita hamil dan para gadis yang diduga kuat adalah PSK mengintip dari balkon rumah si-Mami
Suasana di Pucuk, gambar ini aku ambil diam-diam. Tampak ada anak-anak, wanita hamil dan mengintip dari balkon rumah si-Mami, perempuan yang diduga kuat adalah PSK
Masuk ke lokalisasi ini, kita harus melewati gerbang khusus dengan penjaga super seram. Sebelum masuk akan ada kayu palang yang akan menghalang. Setor Rp 2000 baru deh bisa masuk. Begitu masuk, langsung terasa suasana ”asing”. Rumah di lokalisasi ini sangat padat, ada yang bagus, sedang dan sangat jelek. Satu-satu terlihat merek Bar, Karaoke juga tampak warung biasa. Pucuk termasuk area strategis, berada di tengah kota namun sedikit terisolasi. Semua jenis rumah di sini pun sangat khas, dipenuhi wanita-wanita sexi.
Pada malam hari, perempuan-perempuan ini akan dandan, menunggu pelanggan di rumah masing-masing atau beredar di sekitar lokalisasi. Uniknya, siang hari mereka pun tetap beraksi namun tak pake dandan habis-habisan. Saat melihat kedatangan kami, para perempuan dengan pakaian minimalis casual, sempat menggoda Bang Fahmi, padahal saat itu Bang Fami lagi membonceng perempuan sangat istimewa…aku…. ”Bang tunggu…bang…bang…mampir…” duh…aku benar-benar merinding mendengar rengek mereka.
Jalan di lokalisasi Pucuk terdiri dari gang-gang. Gang utama bisa dilalui kendaraan roda empat dan gang kecil hanya bisa dilewati kendaraan roda dua. Semua gang didereti rumah berisikan PSK. Rumah di gang utama biasanya lebih megah dan mampu menampung banyak anggota. Berbeda dengan rumah-rumah yang ada di gang kecil , ada yang permanen dan semi permanen.
Pengunjung langganan lokalisasi ini berasal dari berbagai kalangan, tentunya kelompok para pria hidung belang, kesepian, tak beriman dan juga tak menghargai perasaan keluarga. Namun jangan salah, ada juga yang datang hanya karena penasaran, pekerjaan (seperti diriku heheh), kepentingan politik atau ingin melakukan kegiatan sosial. Namun tetap saja, karena ini bukan area umum, masuk ke lokalisasi harus banyak yang dipersiapkan terutama mental.
Kalau Anda seorang pria, siapkan mental menahan godaan dari para PSK yang tampangnya beragam, dari yang ayu, sintal, montok, berpakaian sexi, genit, bonding, pirang, ikal, muka putih badan hitam, kuning dan yang pasti sangat bisa menggoda. Nah kalau Anda wanita, siapkan mental menerima pandangan aneh dari penghuni Pucuk. Tamu wanita yang tak dikenal biasanya akan ditatap dengan pandangan heran dan tak menyenangkan.
Alasan di atas pula yang membuat aku tak pernah berani berfoto ria di lokalisasi ini. Sifat narsis ku ciut…hihihi,,,Maklum, penghuni di sini paling alergi kalau ada yang datang membawa kamera. Bang Fahmi yang sudah akrab itu saja masih berpikir panjang saat mau menjepret di area ini. ”Nah itu lah sebabnya, mengapa i disenangi di sini, meski sering jeprat-jeprit..tapi reputasi orang sini harus tetap dijaga…” Bang Fami nge-les…heheheh…
Satu lagi yang harus diketahui, di lokalisasi Pucuk juga banyak terjadi tragedi, mulai dari tewasnya pria hidung belang berjabatan kepala desa, pengusaha, pegawai negeri, dll, diduga karena minum obat kuat sebelum indehoy dengan penghuni sana. Di sini juga tercatat banyak kasus narkoba, senjata tajam, dan kasus kriminal lainnya.
Namun jangan salah…penghuni Pucuk tetaplah manusia biasa…ada banyak kisah yang menyentuh hati terjadi di sini…..


lanjut...

Posting Part-1, aku telah memberi gambaran tentang suasana di area Pucuk. Sejak perjalanan pertama pada tahun 2005 itu, secara berturut-turut setiap tahun aku menginjakkan kaki ke tempat yang penuh PSK ini. Tetap dengan tujuan yang sama yaitu meliput berita.
Posting kali ini, aku tak ingin banyak cerita tentang bagaimana para PSK yang ada di sini. Mengingat, menimbang, semua kita pasti juga sangat paham profesi mereka, pekerja seks yang melayani kepuasan pelanggan untuk mendapatkan uang. PSK di pucuk juga sama dengan PSK yang ada di lokalisasi lain. Ada yang paham dan sadar akan potensi terjangkit penyakit dan ada pula yang sebaliknya. Ada yang semangat saat digelar program vaksinisasi/ pemeriksaan kesehatan, ada pula yang ogah-ogahan.
Berhubung tak mau cerita panjang tentang PSK. Aku ingin langsung berkisah tentang sosok-sosok non PSK yang hidup, tinggal dan juga ikut bekerja di lingkungan lokalisasi Pucuk. Perjalanan beberapa kali ke sana telah membuat aku banyak bertemu dengan sosok istimewa ini. Tak kalah membuat kagum..mereka mampu bertahan hidup di tengah para perempuan yang setiap hari menjajakan kelaminnya untuk orang yang tak jelas asal usulnya.
Yup..lets move on….Berbicara tentang orang istimewa ….pertama yang aku temui adalah anak-anak para PSK. Mengapa aku katakan mereka istimewa? Pertama, karena kebanyakan mereka adalah korban para PSK. Kedua, karena pertemuan kami terjadi di sebuah Mushola. Di tempat ibadah bernama Raudhotul Jannah itu, aku menemukan hampir 50 wajah-wajah tanpa dosa tengah semangat belajar agama.
anak-anak itu...adalah anak PSK, germo, sebagian juga adalah anak mantan PSK Pucuk yang kini ditinggal pergi ibunya...
anak-anak itu...adalah anak PSK, germo, sebagian juga adalah anak mantan PSK Pucuk yang kini ditinggal pergi ibunya...

Awal menginjakkan kaki di pintu Mushola, aku langsung merasakan kecamuk yang luar biasa…merinding, terpana dan kagum. Dari informasi yang berhasil aku himpun, sebagian besar dari anak-anak ini adalah anak ”haram” yang tak diketahui siapa bapaknya, sebagian lagi adalah anak-anak yang ditinggalkan ibunya (eks PSK Pucuk yang kini hijrah entah kemana). ”Tapi ada juga diantara anak-anak ini yang hasil turunan baik-baik, mereka anak-anak pemilik rumah di sini,” seorang ibu muda pendampingku mencoba menetralisir perasan kacau balauku.
Sayang, anak-anak ini agak anti pati dengan orang asing. Aku tak bisa banyak berdialog namun bisa menikmati gerak-gerik mereka selama beraktivitas di dalam Mushola. Ada yang serius menunggu giliran ngaji dengan sang guru, ada yang menjahili temannya dan ada juga yang menyendiri. Sebagai tamu tak diundang, mereka malah sempat balik menontonku sambil cekikikan usai membisikkan sesuatu di telinga temannya. Seandainya itu bukan suasana pengajian, pasti sudah kukejar mereka untuk kupeluk..hahaha.
Meski PSK, germo, aku tetap salut dan berterimakasih karena tetap mengizinkan anak-anaknya mengetahui banyak tentang ilmu agama. Bahkan sebagian besar anak, ada yang mengenakan pakaian bagus, topi rajut putih bersih, jilbab yang berbunga-bunga, dan baju yang sangat rapi, pertanda orang-orang yang melepas mereka berangkat mengaji sangat tulus dan penuh dukungan. Momen ini yang membuat aku berpikir, bahwa PSK yang ada di Pucuk tetap lah manusia biasa, yang juga punya nurani untuk bisa menjadi lebih baik, terutama bagi penerusnya.
Lantas, siapa orang kedua istimewa yang pernah aku temui selama perjalanan ke Pucuk? Dialah guru mengaji di Mushola Raudhotul Jannah. Namanya Syarifuddin K, masih sangat muda dan berstatus mahasiswa di salah satu PTN Kota Jambi. Syarifuddin bukan lah warga Pucuk, pemuda istimewa ini berasal dari wilayah Jambi bagian barat yaitu Tanjung Jabung.
Syarifuddin K, Pemuda "cute" yang mengajar ngaji di Lokalisasi Pucuk
Syarifuddin K (tengah), Pemuda cute yang ikhlas mengajar ngaji di Lokalisasi Pucuk meski sempat ditentang orang-orang terdekatnya..

Dalam berbincangan singkat ku dengan Syarifuddin, diketahui ternyata mengajar ngaji telah ia lakukan sejak sekolah di SMK. ”Tetapi mengajar di lokalisasi Pucuk baru saya lakukan satu tahun terakhir,” ujarnya. Keputusan memilih lokalisasi Pucuk bukanlah keputusan tanpa hambatan, orang-orang dekatnya sempat protes. Untung, tujuan mulianya membuat semua lega yaitu ingin ikut membantu menyelamatkan masa depan anak-anak di Lokalisasi dengn pengetahuan dasar agama. Syarifuddin pun tak pernah mematok biaya mengaji bagi para orang tua di lokalisasi ini, semua diserahkan sesuai dengan keikhlasan.
Setiap hari keluar masuk lokalisasi, tak pula membuat Syarifuddin galau. ”Karena niat masuk ke sini bukan ingin macam-macam,” terangnya lagi. Setiap hari berselisih jalan dengan para PSK, tak pula membuat ia gentar. Meski awalnya sempat mendapat perlakuan sikap yang tak nyaman, lama-lama ia disambut dengan alamiah layaknya seorang guru mengaji.
Orang istimewa lain yang aku temui adalah YY, seorang perempuan muda yang memilih hanya jadi tukang cuci para PSK daripada menjadi PSK yang notabene uangnya tentu lebih banyak.YY saat aku wawancarai bertahan tak mau menyebutkan nama aslinya, dengan alasan ia tak ingin diekspose karena takut dengan pelanggan cuciannya. Maklum, saat bertemu YY aku banyak mengorek tentang pola hidup para PSK yang ada di sana.
YY bukanlah perantau dari jauh, dia warga Jambi yang masuk ke Pucuk karena rekomendasi salah satu temannya di tempat ini. Sebelum ke Pucuk, ia telah dijanjikan pekerjaan sebagai pembuat es batu dan tukang masak. Tak berapa lama, ia pun sempat diajak menjadi PSK. ”Saya langsung tolak!, kami memang orang miskin tapi tak mau jual ini!,” tegas YY sambil memegang bagian bawah pusarnya.
Pekerjaan tukang cuci ia pilih karena harus menghidupi tiga anak kakak perempuannya yang meninggal saat melahirkan bayi terakhir, sementara sang kakak ipar tak tahu kemana rimbanya. Tukang cuci PSK memang bukan pekerjaan yang enak, ada-ada saja hal aneh yang ia temukan di lingkungan kerjanya. ”Tapi ini kan pekerjaan halal, saya juga nyuci di tempat lain, rencana akan berhenti karena ada yang ngajak saya jadi tukang masak di rumah makan, tentunya bukan di sini,” terangnya dengan wajah berbinar.
suasana di Pucuk saat hari AIDS 2008 kemarin...lengang...
Suasana di Pucuk pada hari AIDS 2008 kemarin...lengang...

Lantas siapa lagi yang istimewa? Menurut ku tidak banyak. Di lokalisasi ini aktivitas menyimpang dari norma terlalu kental…sangat sulit menemukan yang istimewa. Jika boleh jujur..kebanyakn orang-orang yang aku temukan di sini…takut ku tatap wajahnya telalu lama…aku takut berpikiran terlalu jauh dan terlalu negatif. Doa ku…tak ada lagi PSK baru yang masuk ke sini…
Oh ya..jika tiba waktunya peringatan hari HIV/AIDS, Pucuk akan menjadi buru-buruan LSM dan pemerintah untuk diperhatikan. Maklum, di sini potensi bersarangnya virus mematikan itu sangat tinggi. Spanduk, penyuluhan, pemeriksaan kesehatan dan cek sampel darah, dilakukan sebagai upaya menyadarkan para PSK. Bahkan PSK di pucuk diberi alternatif latihan ketrampilan jika mau berhenti menjadi PSK. Sayang…usaha itu lumayan sia-sia…para PSK lebih memilih tetap menjadi PSK dibanding jadi tukang jahit, tukang bordir, perangkai bunga atau apapun itu yang halal….jangan kan diajak keluar dari kehidupan PSK, diwawancara dengan janji data disimpan saja..susahnya minta ampuun…. ffhhh…semoga tuhan menyadarkan mereka suatu saat nanti…(***)

sumber:  http://donapiscesika.wordpress.com/
 

ARTIKEL TERKAIT





Sameera Chathuranga Posted By Emaridal-acak

Komentar sahabat sangat diperlukan demi kemajuan emaridial-acak,karena satu komentar saja yang sahabat tulis untuk AC2,sama dengan sudah membantu AC2 dalam mengembangkan emaridial-acak ini.AC2 menerima saran dan kritik silahkan kontak kami acak_acak92@yahoo.com. Salam sayang AC2 kepada sahabat. contact me

Thank You


6 Responses So Far:

uun lionar mengatakan...

AsSalam..
Saya mahasiswa sejarah unp padang. Rencana akan melakukan penelitian di pucuk. Boleh minta bantuannya?

uun lionar mengatakan...

AsSalam..
Saya mahasiswa sejarah unp padang. Rencana akan melakukan penelitian di pucuk. Boleh minta bantuannya?

acak-aCak mengatakan...

walaikum sala: terkait penelitiannya yang ingin dilakukan bisa langsung hubungi teman saya saja riko saputra (fb; riko siau ). ,saya mohon maaf tidak bisa membantu,, karena saya sedang melanjutkan pendidikan di russia,, terima kasih,, senang sekali jika akan ada penelitian lebih lanjut, mohon maaf baru dibalas,,salam

uun lionar mengatakan...

Makasih kak. Insyallah akan di lanjutkan. Bisa minta pin bb nya kak. Untuk komunikasi lebih lanjut..

acak-aCak mengatakan...

pin BB nya 30D84BEC .. bilang saja dapat pin nya dari emaridial ulza. beliau teman saya saat belerja sebagai wartawan di jambi, dan saat ini beliau wartawan jambi ekspress (jektv)

uun lionar mengatakan...

Oke kak... boleh minta pin kakak??

Posting Komentar