Cari Disini

Custom Search

Senin, 21 Februari 2011

Ancaman Dipo tak main2, bisa bikin Stasiun tv macam Metro & TVOne kolaps!



Seskab Dipo : Saya Perintahkan Boikot Media Kritis, Jangan Kasih Iklan!
Senin, 21 Feb 2011 07:24 WIB

JAKARTA, RIMANEWS- Sekretaris Kabinet Dipo Alam menyerukan untuk memboikot media massa yang bersikap kritis terhadap pemerintah. Dipo mengeluarkan instruksi kepada instansi pemerintah untuk tidak memasang iklan di media massa yang cenderung kritis.

"Kalau intinya media ini terus mengkritik tidak ada menit tidak ada jam saya instruksikan memang (boikot). Buat apa pasang (iklan) di sana," ujar Dipo di sela rapat kerja pemerintah di Istana Bogor, Senin (21/2/2011).

Dipo mengajak media untuk bekerja secara objektif dan menghentikan berita yang menjelekkan pemerintah. Jika itu dilakukan, pemerintah bersedia bekerja sama dan memasang iklan. "Kalau memang kita mau kerja sama, mari yang objektif. Tapi ini coba lihat, ada media TV, media koran yang tidak ada yang tidak menjelekkan pemerintah. Gambarnya juga berulang-ulang, yang kebakaranlah, ditusuklah, segala macam. Buat apa?" kata Dipo lagi.

Menurutnya dengan pemberitaan yang bersifat negatif, maka Indonesia akan selalu dikesankan buruk di mata asing. Itu akan membuat investor lari dari Indonesia. Sebab, Indonesia dinilai kacau. "Itu yang dikatakan Indonesia katanya menuju negara gagal," ujarnya sambil menyindir sebuah kutipan dari seorang tokoh agama yang berseberangan dengan pemerintah.

Dipo mengaku merasa prihatin dengan pemberitaan negatif itu karena membuat investor di dunia bisnis menjadi ketakutan, yang menurutnya menyebabkan kesengsaraan rakyat. "Makanya saya katakan boikot saja. Saya memberikan itu kepada Sekjen dan Humas. Maksud saya bukan kita alergi kritik, boleh kritik, kita senang dikritik. Tapi kalau isinya membuat orang-orang menjadi salah pengertian. that is wrong."

Menurut Dipo, kritik yang isinya negatif bukan menunjukkan kebebasan pers. Karena itu, media massa harus memperbaiki kondisi tersebut. "Saya mengatakan boikot saja. Yang tidak boikot saya perhatikan."
http://rimanews.com/read/20110221/17...an-kasih-iklan

Iklan Tembus Rp 60 Triliun
Rabu, 02/02/2011 - 08:58 WIB

Belanja iklan meningkat cukup signifikan pada 2010. Berdasar survei Nielsen, nilai belanja iklan sepanjang 2010 melonjak 23 persen menjadi Rp 60 triliun. Alokasi belanja terbesar masih dari sektor telekomunikasi dengan peningkatan 43 persen. Managing Director Nielsen Audience Measurement The Nielsen Company Irawati Pratignyo mengatakan, belanja iklan 2010 merupakan pencapaian tertinggi selama empat tahun terakhir. Dalam kurun waktu tersebut, pencapaian 2009 paling rendah dengan nilai Rp 48 triliun.

’’Media beriklan didominasi televisi dengan pangsa pasar 60 persen lebih. Lalu, surat kabar 34 persen dan majalah serta tabloid 3 persen,’’ katanya kemarin (1/2).

Industri telekomunikasi memimpin belanja iklan di semua media dengan nilai Rp 5,5 triliun. Tetapi, pertumbuhan belanja iklan industri tersebut masih kalah jika dibandingkan dengan sektor finansial. Telekomunikasi naik 43 persen, sedangkan sektor finansial yang bertengger di posisi keenam meningkat 46 persen dengan alokasi Rp 1,8 triliun.

Posisi kedua ditempati bidang politik Rp 2,9 triliun serta disusul korporat dan pelayanan sosial Rp 2,3 triliun. Setelah itu, industri rokok Rp 1,9 triliun, sepeda motor Rp 1,8 triliun, produk perawatan rambut Rp 1,8 triliun, dan produk facial care Rp 1,5 triliun. Dua posisi terendah, antara lain, snack Rp 1,3 triliun dan media and production house Rp 1,3 triliun.

Dia menyatakan, brand pun masih didominasi penyedia jasa telekomunikasi. Alokasi belanja iklan terbesar dikeluarkan PT XL Axiata Rp 593 miliar dengan kenaikan 66 persen jika dibandingkan dengan 2009. Kemudian, Telkomsel (all sim card) senilai Rp 538 miliar, Telkomsel Simpati Rp 438 miliar, Telkomsel Kartu AS Rp 398 miliar, Axis Rp 396 miliar, dan Indosat IM3 Rp 320 miliar.

’’Tingginya belanja iklan di sektor telekomunikasi disebabkan banyaknya promosi untuk produk telekomunikasi,’’ ungkapnya. Selain itu, kenaikan terbesar dialami belanja iklan oleh pemerintah daerah. Menurut dia, momen pemilihan kepala daerah turut menaikkan belanja iklan mereka sebesar 673 persen atau senilai Rp 309 miliar.

Karena karakter tiap jenis media berbeda, sektor yang mendominasi pun berbeda. Dia menguraikan, media televisi didominasi telekomunikasi Rp 3,6 triliun. Media surat kabar kebanyakan berasal dari sektor pemerintah daerah dengan nilai belanja Rp 2,1 triliun. Nielsen secara khusus menyurvei belanja iklan kategori minuman. Sebab, sejak 2006, kategori tersebut terus menyumbang kenaikan untuk belanja iklan.

Tahun lalu ada kenaikan 33 persen atau Rp 7 triliun. ’’Secara satu tahun, spending puncak terjadi pada kuartal ketiga. Salah satunya momen seperti Lebaran,’’ tuturnya. Survei tersebut meliputi 24 stasiun televisi, 95 surat kabar, serta 163 majalah dan tabloid. Pelaksanaan survei dilakukan di sepuluh kota besar dengan populasi berusia lima tahun ke atas.
http://padang-today.com/index.php?mo...detil&id=25216


TV Dominasi Omzet Iklan

1 February 2011
Jakarta (Citra Indonesia): Berdasarkan hasil penelitian Nielsen tahun 2010, pangsa pasar iklan terbesar masih didominasi TV dengan omzet sebesar 60%. Diikuti surat kabar 34%, majalah dan Tabloit sebesar 3%.

Hal itu diungkapkan oleh Irawati Pratigno, Managing Director, Nielsen Audience Measurement, Selasa (1/2/2011) di Jakarta.

Seperti diketahui tingginya belanja iklan di kategori telekomunikasi didorong oleh kegiatan promosi dari produk telekomunikasi. Tujuh dari 10 pengiklan terbanyak di semua media adalah penyedia telekomunikasi.

Dimana Exelcomindo XL memimpin dengan Rp593 miliar, diikuti oleh Telkomsel dengan Telkomsel All Sim Card, Telkomsel Simpati, Telkomsel Kartu AS, AXIS, Indosat M3 dan Esia.

Pembelanjaan besar lainnya adalah Calon Pemerintah Daerah, Sedaap (mie instant) dan minuman mineral Aqua.

Produk telekomuniksi juga mendominasi daftar pengiklan terbesar di media cetak, yang disusul oleh beragam kategori lain seperti, sepeda motor, mobil, keuangan dan perlengkapan mandi.

Sementara itu kategori iklan pemerintah dan politik menjadi pengiklan terbesar dalam surat kabar mencapai Rp2 triliun, disusul oleh kategori media dan rumah produksi memimpin belanja iklan di majalah dan tabloid dengan capaian Rp171 miliar.

Nielsen juga merilis belanja iklan dari minuman telah naik secara konsisten sejak 2006, meraih lebih dari Rp7 triliun di 2010 artinya meningkat 33 persen dibandingkan 2009.

Dalam kategori minuman, “Susu pertumbuhan” (GUM) memberikan kontribusi paling besar yaitu 18 persen dalam belanja iklan 2010, dimana kenaikan sebesar 66 persen menjadi lebih dari Rp1,2 triliun.

Pada tahun sebelumnya, kopi/the dan jus memberikan kontribusi tertinggi dengan 12 persen. Meskipun GUM memimpin belanja iklan minuman, namun dua merek air mineral (Aqua dan Mizone) adalah pengiklan teringgi dalam kategori ini.
http://citraindonesia.com/tv-dominasi-omzet-iklan/

------------

Stasiun tivi model Metro dan TVOne jangan anggap remeh ancaman Sekab Dipo Alam itu. Meskipun himbauan terbatas pada instansi Pemerintah saja, bukan berarti instansi Swasta tidak akan terpengaruh, sebab, bagaimanapun negara itu memilik berbagai sumber daya yang bisa ' menekakan' dan 'memaksa' instansi Swasta itu agar mau mengikuti langkah Pemerintah, memboikot stasiun tivi itu ...

ARTIKEL TERKAIT





Sameera Chathuranga Posted By Emaridal-acak

Komentar sahabat sangat diperlukan demi kemajuan emaridial-acak,karena satu komentar saja yang sahabat tulis untuk AC2,sama dengan sudah membantu AC2 dalam mengembangkan emaridial-acak ini.AC2 menerima saran dan kritik silahkan kontak kami acak_acak92@yahoo.com. Salam sayang AC2 kepada sahabat. contact me

Thank You


1 Responses So Far:

Kunarso mengatakan...

Saya yakin negeri ini akan tentram dan damai jika semua pihak selalu berfikir jernih dan menahan diri sehingga tidak ada pihak yang merasa perlu mengekspresikan sikap dan komentar dengan nada mengancam, baik yang mengancam akan membubarkan orang bersyarikat maupun pihak yang mengancam keamanan orang-perorang. Walaupun faktanya ada, akan lebih bijak jika media massa dapat menyeleksi berita yang disiarkan.

Poskan Komentar